Badai

People who feel anxious often manifest several symptoms, such as headache, sleeping problems, concentration problems, and distress. Because of the fast rhythm of life in today’s world, which is full of challenges, problems, and stress, anxiety has started to be a common and widespread feeling, especially among the youth.

Actually, anxiety occurs as a result of social, academic, and life stresses. Some youth face social stress and anxiety because of issues like marriage. They feel they may not be able to find a suitable person to marry. Others get worried about whether they will be able to fulfill the financial responsibilities of marriage and other general duties. Even married couples might also face several obstacles in their life, which makes them feel anxious.

Another source of anxiety among the youth is the stress that often comes about because of the fear of failure in choosing the right career or because of high expectations and ambitions.

Even school and university students get anxious particularly during the period of exams. Submitting projects, research papers, and completed assignments and meeting deadlines are also sources of anxiety among students. In many cases, students fear to be blamed if they fail to meet the high expectations of their families.

Anxiety can be dangerous if it starts to be part of a person’s lifestyle. This can be the case if you are continually anxious — with or without reason — and if simple things arouse your anxiety. In order to overcome this problem, you first have to think of the negative physical, psychological, and social consequences that might happen as a result of your continual anxiety.

 What can you do? 

Although anxiety is a problem for many people, it can still be solved. Reciting the Qur’an is the best way to get rid of any feeling of anxiety. and from starting off this way, you continue by sharing your feeling with a friend or a member of your family to support you!

Anyone can experience these anxious feelings, but the important thing is to comprehend the reason behind the anxiety, which mainly arouses from a feeling of fear toward the future. Knowing the future is the choice of Almighty Allah for us, and we have to trust Allah’s choice. We have to be sure that Almighty Allah decides the livelihood and blessings for every one of us.

 Dependence on Almighty Allah

Our role is to exert our utmost effort in our studies, work, and issues at hand and to leave the future to Almighty Allah. Regularly praising and remembering Almighty Allah and reciting His Book are the main key to tranquility of the heart and confidence, which in turn treat any feeling of anxiety. It is not a matter of a specific medication; you are the one who can treat yourself through your sound faith and trust in the will and choice of Almighty Allah.

And always remember to do your best and Allah will do the rest.

Rencana Tuhan (Ilustrasi)

Aku: Tuhan, bolehkah aku bertanya sesuatu?

Tuhan: Tentu.

Aku: Tapi janji, Engkau tidak marah.

Tuhan: Ya, janji.

Aku: Kenapa kau mengizinkan banyak ‘hal’ terjadi padaku di hari ini?

Tuhan: Maksudnya?

Aku: Aku bangun terlambat.

Tuhan: Ya.

Aku: Mobilku membutuhkan waktu yang lama untuk menyala.

Tuhan: Oke.

Aku: Roti burger yang ku pesan dibuat tidak seperti pesanan ku, sehingga aku malas memakannya.

Tuhan: Hmm.

Aku: Dijalan pulang, hp ku tiba-tiba mati saat aku berbicara mengenai bisnis besar.

Tuhan: Benar.

Aku: Dan pada akhir, saat aku sampai rumah, aku hanya ingin sedikit bersantai dengan mesin pijat refleksi yang baru aku beli. Tapi itu tidak nyala! Tidak ada yang berjalan benar pada hari ini.

Tuhan: Biar Aku perjelas, ada malaikat kematian pagi tadi, dan Aku mengirimkan malaikat Ku untuk berperang melawannya supaya tidak ada yang hal buruk terjadi pada mu. Aku membiarkan mu tidur disaat itu.

Aku: Oh, tapi,

Tuhan: Aku tidak membiarkan mobil mu menyala tepat waktu karena ada pengemudi yang mabuk lewat depan jalan dan akan menabrak mu.

Aku: (merunduk)

Tuhan: Salah satu pembuat burger mu hari ini sedang sakit, Aku tidak ingin kamu tertular makanya Aku membuatnya salah bekerja.

Aku: (malu)

Tuhan: Hp mu Aku buat mati karena mereka sebenarnya penipu, Aku tidak mungkin membiarkan kamu tertipu. Dan lagipula akan mengacaukan kosentrasi mu dalam mengemudi bila ada yang menghubungi mu kalau hp mu menyala.

Aku: (mata berkaca-kaca) aku mengerti Tuhan

Tuhan: Oh soal mesin pijat refleksi, Aku tau kamu belum sempat membeli listrik, bila mesin itu dinyalakan maka itu mengambil banyak listrik mu, Aku yakin kamu tidak ingin berada dalam kegelapan.

Aku: (menangis) Maafkan aku Tuhan.

Tuhan: Tidak apa, tidak perlu meminta maaf. Belajarlah untuk percaya Aku. Rencana Ku pada mu lebih baik dari rencana mu sendiri.

Aku: Aku akan percaya padamu. Dan biarkan Aku untuk berterima kasih atas semuanya.

Tuhan: Sama-sama… Aku akan selalu bersamamu, menjagamu☺

Makna hutang dalam islam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi sepeninggalku sifat monopoli (mementingkan diri sendiri) dan beberapa kemungkaran.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pesan tuan kepada kami menghadapi hal itu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah kewajibanmu dan mintalah kepada Allah untuk mendapatkan hakmu.”( HR. Bukhari-Muslim) 

3 hari sebelum meninggal, Rasulullah SAW kesehatannya sudah menurun, jika beliau hendak sholat harus dipapah oleh keluarganya, seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau cucu beliau Hasan dan Husain.

Rasulullah SAW, meninggal dunia pada hari senin. Dan sebelumnya pada hari jum’at meminta para sahabat untuk berkumpul sejenak di halaman masjid Nabawi setelah sholat jum’at.

Beliau Nabi: “Hari ini saya (Rasulullah SAW) akan menyelesaikan urusan dengan kalian.”

Para Sahabat: “Ya Rasulullah, urusan apakah ? Engkau adalah seorang nabi, tentunya tidak ada apapun urusan dengan kami dan apapun yang kau minta pasti kami berikan.”

Beliau Nabi: “Ya saya tahu, apa yang saya minta akan kau berikan kepadaku.”

Para Sahabat: “Engkau adalah seorang nabi yang Ma’sum, urusan apakah yang hendak baginda selesaikan Ya Nabi ?.”

Beliau Nabi: “Ya benar, apa yang kau katakan padaku. Saya akan menyelesaikan masalah Habluminannas. Ketika berkumpul dengan kalian, semua dari berperang, berdagang, meminjam, berhutang pastinya semua itu ada yang membuat kalian sakit hati.”

Para Sahabat: “Ya Rasulullah, sesungguhnya adalah tanggunganmu telah aku bebaskan.”

Beliau Nabi: “Ya saya tahu, tapi tetap saya sampaikan.Selama kepemimpinan saya, adakah yang tidak setuju atau tidak menyukai, silahkan Qishas (Balas) saya.”

Mereka yang berkumpul di masjid Nabawi pada saat itu hanya hening terdiam, mendengar baginda Rasulullah berucap seperti itu. Tentulah siapa yang merasa tidak beruntung hidup dijaman beliau masih hidup atau dijaman kepemimpinannya.

Tapi kemudian, Ukas tiba-tiba berkata : “Rasulullah, saya yang sangat sakit hati.”

Tiada disangka ternyata ada yang bersuara memecah keheningan sesaat, sungguh para sahabat yang lain sangat takjub mendengar pengakuan Ukas saat itu.

Beliau Nabi: “Ya bagaimana Ukas, apa kau pernah tersakiti ?.”

Ukas: “Ya rasa sakit saya masih belum terbalaskan, karena selama ini saya belum sempat.”

Sungguh tidak disangka-sangka, namun tiba-tiba Sayyidina Umar bin Khottob berdiri dengan suara kerasnya.

Sayyidina Umar: “Ya Ukaaaas, satu langkah kau maju, akan ku tebas lehermu.” (Teriak Sayyidina Umar sambil mengengkat pedangnya).

Beliau Nabi: “Ya Umar, sesungguhnya aku mengetahui kedudukanmu di akhirat dengan derajat yang tinggi, maka duduklah.”

Beliau Nabi: “Bagaimana Ukas, apa yang aku lakukan padamu silahkan kau balas.”

Tidak lama setelah Sayyidina Umar bin Khottob bersuara, kembali Sayyidina Abu Bakar As-Sidiq berdiri dan bersuara lantang.

Sayyidina Abu Bakar: “Ya Ukaaaas, pedangku akan memutus pembicaraanmu, jika kau masih melanjutkannya.” (Teriak Abu Bakar sembari memegang pedangnya).

Saat itu Ukas hendak di masa oleh para sahabat, namun Rasulullah SAW melarangnya.

Beliau Nabi: “Ukas majulah.”

Ukas: “Ketika perang Ya Rasulullah, aku terkena cambuk kudamu dipunggungku.”

Beliau Nabi yang untuk berdiri saja harus dipapah dan dibantu para keluarga dan sahabatnya, namun masih ingin menyelesaikan urusan Habluminannasnya (Urusan dengan sesamanya).

Beliau Nabi: “Baik, Ya Ali, tolong ambilkan cambukku di Sayyidatina Fathimah.”

Yang pada saat itu Sayyidatina Fathimah yang menyimpan barang-barang Rasulullah ketika beliau mulai jatuh sakit.

Sayyidina Ali yang disuruh Rasulullah langsung lari ke rumah sambil menangis hebat. Sesampainya di rumah Sayyidina Ali memeluk Sayyidatina Fathimah dan menangis tersedu-sedu.

Sayyidina Ali: “Hai kekasihku, tolong ambilkan cambuk Rasulullah.” (Ucap Sayyidina Ali yang tangisnya terurai).

Sayyidatina Fathimah: “Untuk apa cambuk ayahku itu ?.” (Tanya Sayyidatina Fathimah yang terheran).

Kemudian Sayyidina Ali menceritakan apa yang terjadi saat itu di halaman masjid Nabawi.

Setalah mengetahuinya Sayyidatina Fathimah menangis bersama Sayyidina Ali dengan tersedu-sedu dan mengambilkan cambuk Rasulullah.

Sayyidatina Fathimah: “Apakah benar ini akan terjadi kepada utusan-Mu Ya Allah ?.” (Do’a Sayyidatina Fathimah saat bersujud dan menangis hebat).

Lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib bergegas membawa cambuk ke hadapan Rasulullah.

Beliau Nabi: “Ya Ukas, ini cambuk saya, silahkan Qishas saya.

Namun tiba-tiba Sayyidina Ali bin Abi Thalib, berdiri sembari menangis hebat dan mengangkat pedangnya. Tahukah Anda seberapa berat pedang Sayyidina Ali ? beratnya mencapai 60 Kg, Pedang Sayyidina Ali sangat luar biasa saktinya, ia mampu menggempur dan menyerang benteng tentara romawi yang pada saat itu 3000 pasukan menggempurnya selama 2 bulan sama sekali tidak hancur. Tapi ketika Rasulullah mengutus Sayyidina Ali untuk maju sendiri menggempur benteng tentara romawi, sungguh luar biasa dengan menggunakan pedangnya yang bernama Syaifullah, sebentar saja habis dan hancur benteng itu.

Sayyidina Ali berdiri dan berteriak….

Sayyidina Ali: “Ya Ukaaas……………………..” (Sembari mengeluarkan pedang dari baju pedangnya).

Beliau Nabi: “Jangan…. jangan, duduklah. Kau nanti di syurga bersamaku, sayang jangan kau kotori tanganmu.”

Beliau Nabi: “Bagaimana Ukas ? pukul saya !.”

Ukas: “Tidak Ya Rasulullah, dulu aku tidak memakai pakaian ketika terkena cambukmu dipunggungku.” (Seru Ukas).

Rasulullah yang sudah rentan dan sakit parah, berusaha membuka baju, tapi kemudian langsung Sayyidina Hasan dan Husain berlari memeluk Rasulullah sambil menangis.

Sayyidina Hasan-Husain: “Ya Ukas, sesungguhnya aku yang berhak menerima balasan.”

Beliau Rasulullah: “Wahai anak-anakku, duduklah.”

(Rasulullah SAW. memanggil cucunya Sayyidina Hasan dan Husain “Anak-anakku”).

Beliau Nabi: “Ya Ukas, selelsaikanlah urusanmu denganku.”

Dan akhirnya Ukas lari hendak mencambuk Rasulullah. Tapi apa yang terjadi ??

Ukas malah mencium noktaf (tanda kenabian) atau stempel kenabian yang ada dipunggung kanan Rasulullah SAW.

Beliau Nabi: “Hai sahabat saksikanlah !! Ukas ini menjadi penghuni Surga dan lancar hisab ketika Allah SWT menghisabnya.”

Diambil dari Kitab Hadisun Nabawi (Hadis ke-418)

“Semua dosa akan diampuni, bagi orang yang mati syahid, kecuali hutang.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Ibnu Umar).

Begini penjelasannya:

“Orang yang bangkrut, adalah orang yang nanti ketika dihisab oleh Allah SWT, dia bangga dengan membawa ibadah sholatnya, amal shalehnya, shodaqohnya, zakatnya, hajinya. Akan tetapi, tidak lama akan ada orang yang datang dan menuntut. ‘Sesungguhnya kamu telah mencurangi saya, memukul saya, menipu saya, dan merebut hak saya !.’ Sehingga karena banyak yang menuntut kepadanya, Allah SWT memberikan segala apa yang dibawa akan Allah SWT bagikan kepada mereka yang menuntut haknya di akhirat nanti.

Kemudian tidak lama lagi, ada lagi seseorang yang menuntut haknya, namun segalanya telah habis dibagikan, hingga akhirnya Allah SWT mengambil dosa seseorang yang menuntut itu untuk diberikan kepada seseorang yang telah dituntut. Inilah orang yang Musflish (Bangkrut). Karena hutang bukan hanya materi tetapi janji, ucapan, kemudian rasa sakit hati ataupun tindakan yang kurang menyenangkan atau tidak sesuai syariat yang dimana setiap manusia memiliki hak satu sama lain untuk dihargai dan saling menghargai, dan Allah tidak akan terima ketika satu hamba menyakiti seorang hamba yang lainnya.”

Allah SWT mengampuni dosa kita dan Habluminallah (Urusan dengan Allah SWT) telah selesai. Tapi lain halnya jika kita belum menyelesaikan Habluminannas (Urusan dengan sesama manusia) maka akan terus dibawa hingga ke akhirat.