Pekerjaan idaman lulusan sarjana

BEKERJA di sektor pertambangan dan teknologi informatika atau menjadi akuntan serta pengacara kini menjadi idaman banyak sarjana baru. Tidak mengherankan bila perguruan tinggi yang mencetak sarjana di bidang itu diserbu lulusan sekolah mengengah atas, terutama dari universitas ternama. Begitulah hasil survei Tempo 2008. Tapi, bisa saja nanti bakal terjadi pergeseran. Tren pasar inilah yang mestinya jadi pertimbangan calon mahasiswa yang akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru yang akan datang, dalam memilih fakultas atau program studi.

Lulus kuliah, langsung bekerja, gaji besar, karier pun jelas. Siapa yang tak tergiur oleh pencapaian itu. Apalagi, dengan massa kerja kurang dari 10 tahun, mereka sudah menduduki berbagai posisi strategis. Tidak penting apakah menggapainnya mereka harus sering berpindah-pindah kerja. Inilah beberapa kisahnya.

Riko Asri, baru 29 tahun, tapi gajinya sudah Rp 20 juta sebulan. Jabatannya tak bisa dipandang enteng: Manajer Keuangan PT Unilever untuk kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Turki. Sebelum Unilever, dia “hanya” pernah bekerja di satu perusahaan lain, PT Nestle Indonesia. “Dalam lima sampai enam tahun, saya berhadap bisa mencapai level manajer senior,” kata laki-laki asli Padang lulusan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Menurut dia kuliah sangat membantunya di dunia kerja. Untuk menambah bekal, Riko juga aktif di senat mahasiswa dan pencinta alam.

Di bidang perminyakan, ada kisah dua perempuan. Diah Agustina, lulusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung, dan Mutiara Eliza, sarjana Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, Jakarta. Gaji pertama Diah, setelah dia lulus sekitar sepuluh tahun silam adalah Rp 9 juta, di perusahaan minyak Perancis, Total E & P. Lima tahun kemudian, Diah pindah ke perusahaan minyak Inggris, British Petroleum. Adapun Mutiara, setelah lulus, langsung mendarat mulus di PT Caltex Pacific Indonesia-sekarang Chevron. Sebagai fresh graduate, Mutiara disambut gaji Rp 9,7 juta sebulan. Kini gaji mereka berdua sudah berlipat-lipat dibandingkan ketika baru masuk dulu.

Ada juga yang mengikuti jejak Ally McBeal, pengacara cerdas, muda, dan cantik-tapi sering patah hati. Astrid Navayette, masih 26 tahun, tapi sudah berpendapatan US$ 2000 atau hampir Rp 20 juta sebluan. Astrid bekerja di Firma Perusahaan Lubisa Ganie Suraowidjojo sebagai associate lawyer-tataran menengah sebelum mencapai posisi partner. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini ingin jadi pengacara karena pengaruh citra bahwa pelaku profesi tersebut kaya dan sophisticated seperti dalam fil seri LA Law dan Law and Order yang sering dia tonton. “Jujur saja, saya tak punya alasan khusus, apalagi idealisme,” katanya.

Di sektor teknologi informasi, ada Josereanto. Pria 28 tahun ini akhirnya menclok menjadi pengawas teknologi informasi database di Commonwealth Life, di Jakarta. Sebelumnya, lulusan Teknik Informatika Universitas Bina Nusantara, Jakarta, di Trikomsel selama dua tahun, lalu lompat ke Nitra Integrasi Informatika sebagai pengembang dan konsultan program. Pria asal medan ini melanjutkan petualangannya sebagai pelatih teknik informatika di Isoton Technology, lalu menjadi programmer di Microsoft. Kini di Commonwealth, Josereanto mengaku bergaji bersih di atas Rp 7 juta sebulan. Akan menetap? Dia tidak janji.

Yang memilih jalur aman dan serba pasti juga ada. Itulah Agustine Hancia, 26 tahun. Lulusan Jurusan Teknik Kimia Universitas Parahyangan Bandung, ini memilih bekerja di PT Astra Internasional. Gaji awalnya standar: Rp 3 juta. “Tapi saya mendapat lebih dari sekadar gaji, yaitu kemampuan manajerial dan leadership,” katanya.

****

Ada satu persamaan di antara berbagai kisah sukses itu: semua lulusan fakultas atau jurusan perguruan tinggi ternama. Universitas Indonesia dipercaya andal dalam jurusan akuntansi dan hukum. Bina Nusantara adalah perguruan tinggi swasta yang memegang trademark untuk teknologi informatika. Insinyur perminyakan masih melekat pada Institut Teknologi Bandung dan Universitas Trisakti.

Apa boleh buat, dominasi nama besar perguruan tinggi ternama itu tak mudah disingkirkan karena pasar tetap percaya pada sejumlah institusi pendidikan ini. Apalagi alumni perguruan tinggi tersebut sudah tersebar di berbagai perusahaan. Misalnya, ada sebuah perusahaan di bidang teknologi informatika yang semua pegawainya lulusan Bina Nusantara.

Ini sesuai dengan hasil survei Pusat Data dan Analisis Tempo 2008. Penelitian tersebut menjaring pendapat yang mewakili pasar tenaga kerja, yaitu atasan yang memiliki anak buah sarjana strata satu (user), perekrut tenaga kerja (recruiter atau head hunter), serta masyarakat terpilih. Mereka umumnya memiliki preferensi jurusan yang berasal dari perguruan tinggi ternama.

Benarkah pasar memang seperti itu? Apakah pekerjaan yang dijalani Josereanto, Astrida, dan beberapa yang disebut di atas nantinya masih tetap populer di pasar? Benarkah ada jurusan ngetop yang masih banyak diminati dari perguruan tinggi ternama, meskipun daya serap pasar terhadap lulusannya makin rendah, seperti yang terjadi pada sarjana ilmu sosial dan humaniora?

Untuk mendapat gambaran kebutuhan pasar sekitar lima tahun mendatang, CEO Jobs DB Eddy S. Tjahja punya prediksi. Sebagai bos perusahaan yang menyediakan data lowongan kerja yang diakses 77 juta penduduk Jakarta dan sekitarnya serta kota-kota besar lainnya, Eddy terbiasa membaca tren permintaan pasar dari tahun ke tahun. Menurutnya, dalam lima tahun kedepan, selain arah kebijakan pemerintah, pasar dipengaruhi globalisasi dan kebutuhan tenaga kerja makin terspesialisai. “Untuk itulah, permintaan pasar tenga kerja di sektor perbankan dan manufaktur, karena kondisinya belum membaik setelah krisis ekonomi, masih rendah.” Katanya. Di masa mendatang, kebutuhan di bidang pemasaran dan hubungan masyarakat akan meningkat karena perusahaan makin sadar akan kebutuhan pencitraan yang baik. Apalagi bila dikaitkan dengan makin meluasnya tutuan penerapan good corporate governance di lingkungan perusahaan. “Jadi lebih ke pekerjaan marketing and communication. Orang makin hirau dengan image,”ujarnya.

Akuntan, terutama untuk perpajakan, masih akan laris. Gejalanya sudah bisa dilihat dari sekarang, yaitu kebijakan negara menggenjot pendapatan dari pajak. Menteri Keuangan yang sekaligus juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan Indonesia masih membutuhkan sekitar 18 ribu tenaga perpajakan.

Dunia usaha juga membutuhkan mereka. Menurut Direktur Sumber Daya Manusia PT Telkom Indonsia Faisal Syam, kebutuhan akan akuntan memang besar. Namun, untuk Telkom masih ada spesifikasinya, yaitu yang menguasa standar akuntansi Amerika Serikat atau Generally Accepted Accounting Principles. Mengapa? Sebab, perusahaan ini listing id Bursa Efek New York. Faisal mengakui, sampai saat ini, Telkom masih mengalami kesulitan mencari tenaga akuntan yang menguasai standar itu, kecuali dari luar negeri.

Spesialisasi memang merupakan unsur penting yang disepakai semua narasumber Tempo tentang pasar tenaga kerja. Menurut mereka, dalam 10 tahun terakhir, tenaga kerja dengan spesialisasi tertentu makin dihargai. Terlebih di masa datang, lulusan fakultas hukum, misalnya. Kini, yang dibutuhkan bukan lagi yang klasik, seperti lulusan hukum pidana, melainkan sarjana hukum yang memahami dunia korporasi, termasuk di dalamnya yang memahami praktek hukum internasional.

Yang masih seperti bola liar sebenarnya adalah jenis pekerjaan yang mengutamakan pengguanaan teknologi informasi yang akan sangat dibutuhkan di masa sekarang dan nanti adalah yang menguasai piranti lunak (software). Ini terkait dengan makin digenjotnya program-program open source, seperti Linux. “Sekarang ini, jumlah lulusan perguruan tinggi kita baru mampu memenuhi 10 persen permintaan pasar,” kata Eddy.

Tidak aneh jika kesetiaan orang yang menguasai bidang ini tidak terikat hanya pada perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka biasanya nyambi dengan menggarap pekerjaan lain melalui permintaan online, bahkan datang dari perusahaan-perusahaan di luar negeri. Lihat http://www.freelance.com yang meruapakan pasar dunia maya tempat jual-beli peranti lunak. Bagi mereka, kata Eddy, “Pasar dan harga, sky is the limit“.

Kesempatan yang sama juga ada pada lulusan desain grafis. “Nanti semua akan menuju ke arah smart work bukan hard work” kata Reza Indragiri Amriel, konsultan sumber daya manusia. Yang dimaksud adalah pekerjaan yang tidak harus terikat rutinitas datang ke kantor. Orang-orang seperti Josereanto gajinya mungkin tidak terlalu besar, tapi penghasilannya bisa bekali-kali lipa dan semua bisa dikerjakan di mana saja, di rumah atau di kafe-kafe.

Masalahnya, tak semua fakultas atau jurusan mampu memberikan harapan besar bagi lulusannya. Tidak sedikit fakultas atau jurusan yang hanya menghasilkan penganggur. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal mengakui bahwa banyak yang tidak klop antara jurusan dan kebutuhan pasar. Misalnya, cukup banyak jurusan yang sudah jenuh sehingga lulusannya tak lagi dapat diserap pasar kerja.

Tingkat kejenuhan fakultas atau prodi seperti kesehatan serta matematika dan ilmu pengetahuan alam, memang masih kecil, hanya lima persen. Tapi tingkat kejenuhan fakultas pertanian sudah 15 persen, teknik 20 persen, dan ilmu pengetahuan sosial bahkan 50 persen.

Ketidaksesuaian antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja juga bisa dilihat dari tingginya angka pengangguran di kalangan sarjana atau lulusan program diploma. Sialnya, tingkat partisipasi penduduk usia kuliah (19 – 24 tahun) dalam pendidikan tinggi juga masih sangat rendah, yakni tak sampai 18 persen. Posisi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga, termasuk Filipina dan Malaysia. Sudah begitu, perguruan tinggi yang ada pun banyak yang tutup. Tiga tahun terakhir, ada 89 perguruan tinggi dan 156 prodi yang bubar karena sepi peminat.

Penyesuaian pun sebenarnya sudah dilakukan sejumlah perguruan tinggi. Mereka melakukan berbagai adaptasi untuk memenuhi tuntutan pasar. Institut Pertanian Bogor kini hanya berkonsentrasi pada bidang agrobisnis dan agroteknologi. Beberapa universias yang punya jurusan psikologi juga menggeliat, mencari ceruk pasar masa depan. Universitas Yarsi, misalnya, akan berkonsentrasi pada psikologi kedokteran. Adapun Universitas Bina Nusantara mulai membuka bidang psikologi olahraga, dirgantara, dan investigasi. Institut Teknologi Bandung membuat Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati.

Selain mendirikan berbagai program studi yang dibutuhkan pasar, perguruan tinggi membekali mahasiswanya berbagai pelatihan tambahan, antara lain pengembangan karakter (soft skill). Bahasa kerennya, lulusan nantinya tidak hanya mampu bekerja sesuai dengan tuntutan pasar, tapi juga dapat mengembangkan kemampuan manajerial dan kemimpinan. Belakangan kewirausahaan juga menjadi salah satu program unggulan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Beberapa universitas menjalin kerja sama dengan perguruang itnggi asing. Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, misalnya, masuk menjadi anggota Asosiasi Sekolah Bisnis Internasional.

Pada akhirnya, yang menentukan para mahasiswa sendiri. Dalam kondisi sekarang, bukan hal yang menganggetkan jika mahasiswa memilih fakultas atau jurusan yang menjanjikan gaji lebih tinggi dan karir yang jelas. Sebagian yang lain lebih memilih program studi yang siap kerja, seperti diploma tiga. “Merka memang semakin pragmatis,”kata Himawan Wijanarko, dari The Jakarta Consulting Group, sebuah perusahaan di bidang konsultasi manajemen.

Pragmatisme ini pula yang membuat lulusan perguruan tinggi tidak tertarik pada fakultas atau jurusan yang tidak menjanjikan pekerjaan atraktir (baca: tidak bergaji besar). Menurut Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, jarang mahasiswa yang tertarik pada hukum masyarakat dan pembangunan, yang bila lulus bekerja di lembaga swadaya masyarakat serta bantuan hukum. Yang juga kering peminat adalah hukum pidana, yang nantinya menjadi jaksa dalam hakim. Nasib serupa memimpa pekerjaan guru.

Berbagai kisah dia ats menujukkan dengan jelas kecendurangan itu. Teknologi informatika, akuntansi, hukum korporasi, dan perminyakan hanya sedikit dari fakultas atau jurusan yang menjadi incaran para mahasiswa. Tapi jangan dilupakan pula jalur lain yang belakang getol dikembangkan diberbagai universitas: mencetak para wirausahawan.

Simak yang dilakukan Ketut Catur Sukawan. Ia memilih kembali ke desa untuk bertani dan menerapkan ilmu yang didapat selama empat tahun dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Kini dia punya enam hektare sawah dan kebun di Jembrana, Bali, yang ditanami padi, sayur, dan buah-buahan. Di usia 30 tahun, Ketut sudah menjadi pedagang beras dan pemasok sayur serta buah di pasar induk Bali dengan keuntungan Rp 30 juta per bulan.

Yang dilakukan Ketut inilah yang semestinya juga menjadi pilihan para lulusan perguruan tinggi. Mencetak wirausaha bisa menjadi alternatif untuk mengurangi pengangguran. Dukungan dari perbankan tidak lagi sulit diperoleh. Sejumlah perusahaan atau lembaga nirlaba juga mulai masuk ke wilayah ini.

2 pemikiran pada “Pekerjaan idaman lulusan sarjana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s