Menguak Rahasia Peran Telekomunikasi Dalam Bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Serta Pola Hidup Mahasiswa

Bisnis,bisnis dan bisnis. Sebuah kata yang lumayan tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia.Banyaknya pengangguran di Indonesia itulah salah satu akibat perspektif dari negatifitas bisnis. Hampir semua berpendapat bahwa bekerja itu hanya dengan “bekerja” pada hakikat pengertian aslinya. Mereka sepakat hanya dengan membanting tulang,keluar keringat,capai,berangkat dan pulang teratur itulah yang disebut dengan bekerja.Lain halnya dengan pemikiran sebagian orang,termasuk penulis yang notabene-nya masih seorang mahasiswa yang punya prinsip”Pensiun sebelum umur 40 tahun” yang artinya sebelum umur 40 tahun penulis harap sudah bisa mapan dan tidak lagi bekerja seperti orang lain lakukan sekarang ini di umur 40 tahun,penulis ingin menikmati usia senjanya dengan “kerja cerdas” yang di lakukan di masa muda yang penuh kreatif dan inovasi.

Bisnis yang orang jaman dulu kenal itu, kita harus punya modal besar,lokasi strategis dan punya banyak waktu luang.Begitulah kiranya pemikiran orang tua saya. Akan tetapi derasnya peran telekomunikasi membuat persepsi itu kian berubah

Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Tidak usah menilik jauh ke atas tentang peran telekomunikasi di negeri kita. Lihat saja beberapa UKM yang ada tepatnya disekitar kampus. Beberapa dari mereka menggunakan telekomunikasi seluler sebagai asset berharganya. Pernahkah anda bayangkan pada masa lalu bahwa makanan,laundry,isi ulang gallon dan yang lainnya bisa datang di hadapan anda dengan sendirinya? Eitz,jangan berharap itu makanan dkk bisa jalan sendiri yah..

Semua itulah contoh dari dampak telekomunikasi seluler. Kita bahkan tidak pernah membayangkan operator seluler bisa memasang tarif semurah-murahnya seperti XL yang sekarang ini. Jangkauan yang begitu luas sampai ke pelosok membuat telekomunikasi tidak hanya dinikmati oleh kaum elit tapi juga kaum alit.

Lalu apa yang di maksud sebagai asset berharga? Ya,apalagi kalo layanan pesan siap antar.Mungkin ini sudah biasa bagi resto ternama semacam KFC,MCDonals dan lain sebagainya yang punya omset sampai ratusan juta rupiah perbulannya, akan tetapi apakah dengan itu bisa membantu perekonomian Indonesia? yang masyarakatnya tergolong menengah kebawah?

Jawabannya TIDAK!

Dengan berkembangnya UKM inilah yang membantu Indonesia terlepas dari image Negara miskin. Masyarakatpun mulai berani memanfaatkan telekomunikasi semaksimal-maksimalnya. Daripada menganggur,mereka menjual makanannya hanya dengan selebaran kertas berisi menu makanan dan kontak yang bisa di hubungi. Ya,Mereka bahkan tidak punya warung, tidak membayar uang sewa dan tidak perlu menghabiskan waktu atau full time jaga.Ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga yang minim ketrampilan dan membantu suaminya memenuhi kebutuhan hidupnya. Jangan dikira bisnis ini remeh,bahkan ibu-ibu itu mengaku mendapat profit lebih besar daripada suaminya. Mahasiswapun ketika ditanya,mereka tidak peduli ada dimana dan bentuknya seperti apa tokonya,yang penting pesanan sampai tepat waktu dan puas dengan makanannya. Tidak berhenti di situ saja,bukan cuma makanan saja,laundry juga ikut menuai hasilnya dengan dampak telekomunikasi ini.

Pola hidup mahasiswa

Pola hidup mobile, pola hidup mahasiswa. Itulah semboyannya. Dari mulai netbook,internet,handphone dan lain sebagainya. Hampir 90% mahasiswa menggunakannya sebagai pendukung kuliahnya, komunikasi ataupun sekadar ajang eksis. Tidak bisa di pungkiri lagi, dari kampusnya pun “memaksa” begitu. Sistem penjadwalan, registrasi, nilai semuanya harus di akses online demi efesiensi dan efektivitas kerja.

Jika di kaitkan dengan dilemma yang telah di bahas tentang UKM, mahasiswapun tidak luput dari perannya sebagai pelaku UKM tersebut. Dengan alih-alih ingin menjadi Entrepreneur, menyokong biaya kuliah serta hidup di perantauan bahkan yang lebih mulia lagi untuk menghidupi keluarganya.

Bukan mahasiswa namanya kalau tidak ada tantangannya. Meskipun sibuk, bisnispun jalan. Tidak ada modal dan takut memulai nampaknya bukan alasan jika ingin hidup mandiri dan tentunya usai kuliah tidak bergantung untuk menjadi “kuli” bergaji kecil,di atur-atur,seolah tidak merdeka.

Jika tidak bisa menjadi penjual, kenapa tidak mencoba yang lain? Distributor misalnya. Peran mahasiswa disini untuk menjembatani antar masyarakat dan pembeli semacam mahasiswa. Jika berhasil,bukan tidak mungkin menjadi sukses dengan modal 0 rupiah dan bisa mengembangkannya untuk bisnis sendiri.

Apalagi misalnya? Dengan perkembangan teknologi telekomunikasi yang luar biasa pesatnya, Social Network pun bisa dimanfaatkan untuk membuka toko online.

Jika ditilik lebih dalam lagi,sebenarnya masih banyak keajaiban yang bisa didapat dari peran telekomunikasi yang ada. Kita sebagai warga Negara sudah saatnya memanfaatkan peluang yang ada dengan cerdas. Pekembangan Telekomunikasi yang cepat dengan tariff yang murah sejatinya bukan hanya pola konsumtif yang di tunjukkan akan tetapi sikap produktif yang di unggulkan.

*) Artikel ini diikut sertakan dalam Lomba Karya Tulis XL Award 2010

Satu pemikiran pada “Menguak Rahasia Peran Telekomunikasi Dalam Bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Serta Pola Hidup Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s