Gapailah cita-cita kita,Teman!

bismillah,

Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullahu ketika menerangkan ucapan Abu Thayyib Al-Mutanabbi mengatakan: “Aku tidak menganggap aib-aib manusia sebagai kekurangan, seperti kurangnya orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan.”

Beliau rahimahullahu berkata: ”Seyogianya orang yang berakal berusaha menyempurnakan dirinya sampai pada batas maksimal yang ia mampu. Seandainya digambarkan kepada anak Adam dirinya dapat naik ke atas langit, sungguh aku memandang kerelaannya tinggal di bumi ini merupakan seburuk-buruknya kekurangan. Jika saja kenabian dapat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh, niscaya aku memandang orang-orang yang meninggalkan upaya dalam mendapatkannya berada pada puncak kerendahan. Perjalanan hidup yang baik, menurut para ahli hikmah, adalah keluarnya suatu jiwa menuju puncak kesempurnaan yang mungkin dalam keilmuan dan amalan.”

Beliau berkata : “Secara ringkas, tidaklah ia tinggalkan satu keutamaan pun yang mungkin untuk dia raih melainkan ia berusaha mendapatkannya. Karena sesungguhnya merasa cukup (dalam hal ini, pen.) adalah kondisi orang-orang yang rendah.

Maka jadilah dirimu seorang yang kedua kakinya berpijak di atas tanah, akan tetapi cita-citanya berada pada bintang Tsurayya.

Jikalau engkau mampu untuk melampaui seluruh ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Dan tidaklah para pemalas itu bermalas-malasan melainkan karena rendahnya keinginan dan hinanya cita-citanya.

Ketahuilah, sungguh engkau berada pada medan pertempuran, sedangkan waktu itu akan berlalu dengan cepat. Maka janganlah engkau kekal dalam kemalasan. Tidaklah sesuatu itu dapat terluput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah seseorang dapat meraih apa yang dicapainya melainkan karena kesungguhan dan tekadnya yang bulat.”

(Awa’iquth Thalab hal. 51-52)

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit”, kalimat ini sudah diperdengarkan kepada saya, waktu saya di bangku Sekolah Dasar dulu. Jadi sudah lumayan lama. Hanya saja saat itu, kepada saya hanya ‘diperdengarkan’ untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, tidak ada penjelasan lebih jauh atas makna kalimat ini. Apa karena waktu itu usia kami masih anak-anak, sehingga sang guru merasa belum perlu memberikan penjelasan maknanya kepada kami ya? Namun yang pasti, kalimat ini kembali terbersit dalam benak saya akhir-akhir ini. Dan, oalahhhh, jadi nyadar, semakin bertambah umur kok semakin lupa dan semakin jauh dari keberanian untuk bercita-cita dan kemudian mewujudkannya ya? Apa karena pikiran ini sudah sedemikian terbelenggu dengan rasa TAKUT GAGAL? Atau karena keberanian untuk menetapkan cita-cita setinggi mungkin, telah tergerus pengalaman hidup, pengetahuan dan waktu? Apa pun alasan yang muncul, saya menyadari, pada akhirnya ini semua berpulang kembali kepada diri sendiri.

Jika waktu dulu cita-cita itu lebih mengarah pada kata MENJADI, dan difokuskan kepada profesi atau jenis pekerjaan tertentu, setelah dewasa ( ceileee, emang udah dewasa dikau!!?? ), menurut saya pemaknaan cita-cita bermetamorfosa menjadi harapan yang ingin direngkuh. Gagasan yang ingin dimanifestasikan dalam perbuatan. Nilai-nilai langit yang dicarikan cara untuk membumi.

Cita-cita, apa pun jua bentuknya, akhirnya menjadi korelasi, kombinasi, dan interaksi antara dua hal: apa yang ingin diwujudkan dengan apa bentuk perwujudannya. Dan ternyata, ada hal ketiga yang tidak bisa kita abaikan begitu saja, yaitu faktor NASIB.

Anda sudah memiliki cita-cita? Jika belum, maka saya sarankan, milikilah cita-cita mulia itu. Peganglah ia erat-erat seperti engkau tengah menggenggam sejumput bulir beras di musim paceklik, yang akan engkau masak untuk makan anak-anakmu. Dekaplah cita-cita itu, laksana engkau dekap sepenuh kasih bayi yang telah dilahirkan isterimu, yang engkau telah bertahun-tahun menantikannya. Peliharalah cita-cita itu sepenuh kasih dan cinta, maka Insya Allah, segala apa yang ada di penjuru langit dan bumi akan berdoa untukmu, agar dilapangkan-Nya jalan saat engkau dalam proses mewujudkannya.

jika Anda telah bercita-cita, dan terasa curam dan mendaki jalan untuk meraihnya, maka bersabarlah. Bersabarlah. Jika seribu langkah telah engkau tempuh, dan belum kelihatan cita-cita Anda akan teraih, maka bersabarlah. Siapa yang akan tahu, jika ternyata di langkah Anda yang ke 1001, di sanalah cita-cita Anda mewujud.

Terkait dengan cita-cita dan perjuangan meraihnya, ada dua kondisi yang bisa kita alami: berputus asa dari jalannya dan lari ke gelapnya gua untuk menjadi pecundang. Atau melakukan segala cara, meskipun jalan yang ditempuh jauh dari kebenaran. Tapi benarkah hanya dua kondisi ini yang harus kita alami? Tentu saja tidak!

Kondisi ketiga yang bisa kita lakukan, yaitu dengan tetap bersabar, segera bangkit dari keterpurukan, sembari terus mencari jalan yang tepat, baik dan benar, untuk mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan.

Kalau sudah berbicara tentang cita-cita, maka rasanya saya hanya ingin menambahkan kalimat pembuka di atas:
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, karena hanya langitlah yang bisa membatasi cita-citamu itu!”

Satu pemikiran pada “Gapailah cita-cita kita,Teman!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s