Ayo Semangat, Farid !

Tak ada hidup tanpa ujian. Hidup itu memang
penuh ujian, baik ujian dalam bentuk
kesenangan maupun kesusahan, suka maupun
duka, kenikmatan maupun ketidaknikmatan.
Persoalannya bukanlah pada ujian itu.
Persoalannya bukanlah pada sesuatu yang kita
anggap “masalah” itu. Persoalannya bukan apa
yang menimpa kita. Tetapi persoalan
sesungguhnya adalah bagaimana kita menghadapi
ujian itu, memandangnya, memaknainya,
menyikapinya.

Tiada obat yang lebih baik ketika menghadapi ujian
selain dari sabar dan ikhtiar. Tidak
perlu mencaci keadaan, atau menyesali keadaan
secara berlebihan, atau stress, atau
menyumpahi keadaan. Lari dari ujian, atau
berusaha mencaci keadaan, tidak menerima
kenyataan, bukanlah solusi, tetapi malah akan
menambah masalah baru. Kembalikanlah semua
yang telah terjadi kepada Allah. Sikap yang terbaik
adalah mengambil hikmahnya, pelajaran berharga
buat menghadapi hari esok. Lalu lanjutkan dengan
ikhtiar, mengusahakan yang lebih baik ke
depannya.

Tiada hidup yang tanpa ujian. Dalam konteks
agama, ujian itu adalah “sunnatullah”.
Dengan ujian, akan diketahui siapa orang yang
beriman dan siapa orang yang tidak beriman.
Bagaimana kita menghadapi ujian itu, itulah yang
akan menentukan nilai kita di hadapan Allah
(sekali lagi nilai di hadapan Allah, bukan di
hadapan manusia).
Akhirnya, alangkah lebih baiknya jika ada masalah
mendera, kita mendekatkan diri
kepada Allah. Bisa dengan meningkatkan
kekhusyukan shalat kita, doa kita, muhasabah
kita, renungan kita, introspeksi diri kita. Mintalah
ampun kepada Allah. Mintalah petunjuk
kepada Allah. Kalau sungguh-sungguh dilakukan,
Insya Allah Allah akan memberi petunjuk kepada
kita. Wallaahu a’lam.

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa
kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari
genggaman, keinginan yang tidak tercapai,
kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya
angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua
itu telah hadirkan nelangsa yang begitu
menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-
saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya
dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih
ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju
majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang
akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar
berbagai keinginan. Dan memang manusia
diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai
keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan
bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa
tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa
yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini
tidak punya satu hukum: harus sukses, harus
bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa
bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga
membuatnya sombong dan bertindak sewenang-
wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak
dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid
dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang
memang bukan hak kita. Padahal hakekat
kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang
memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia,
entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti
akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang
bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki,
meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-
matian mengusahakannya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan
supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa
yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS Al-Hadid 22-23).

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap
jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah
tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik
dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte
Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia,
karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi
yang menentukan segalanya, kita meminta dengan
paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah
memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik.
Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan
kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah
karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan
firman dari Allah : “…. Boleh jadi kalian membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan
boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui
kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216).

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut
dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-
apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-
benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa
perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada
relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di
akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk
dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup
yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang
bukan milikmu!

Wahai diri, jika kau bersedih, maka kembalikan segalanya pada Allah….

Jika banyak yang luput darimu, maka pulangkan pula pada-Nya…
Tiada kesedihan yang berkepanjangan sebagaimana tiada kebahagiaan yang berketerusan…
Segalanya Dia ciptakan silih berganti…
Seperti langit yang tak selalu berbintang, kadang juga mendung dan kelam…

Tiadalah selain Dia dimana engkau kadukan segala gundahmu, wahai diri…
Dia yang telah menjamin kehidupanmu, takkan mungkin melupakanmu…
Jadi, ketika kau bersedih, maka cukupla pada-Nya saja engkau adukan kesedihan itu…
Pada-Nya ada selaksa solusi…

Jika engkau tak dekatkan dirimu pada-Nya yang Maha Memiliki Solusi, lantas pada siapa lagi? Sebab Rabb-mu lah yang maha memiliki segalanya. Lantas, apakah engkau akan mencari pada selain-Nya?

Wahai diri, jika engkau bersedih, air mata yang tumpah itu cukuplah untuk-Nya saja. Dia. Dia. Dia….hanya Dia, Allah…
Sungguh, hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram, hanya dengan mengingat-Nya saja…
Wahai diri, jika engkau hendak mencari perhatian, maka cukup perhatian-Nya saja…

Wahai diri, engkau masih lah sangat jauh dari baik, akan tetapi kau harus ingat pada satu hal : Suatu masa yang tak engkau duga, dunia ini pasti engkau tinggalkan. Tidakkah engkau bersiap untuk masa itu, wahai diri?

Satu pemikiran pada “Ayo Semangat, Farid !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s